Tempe Warisan Budaya Takbenda Dunia kini menjadi perhatian internasional setelah Indonesia secara resmi mengusulkan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) ke Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB atau UNESCO. Langkah ini menandai upaya serius pemerintah dan masyarakat untuk melindungi sekaligus mengakui tempe sebagai identitas budaya bangsa yang telah hidup ratusan tahun dan diwariskan lintas generasi.
Usulan bukan sekadar pengakuan terhadap makanan tradisional, melainkan juga terhadap nilai sosial, pengetahuan lokal, serta praktik budaya yang melekat dalam proses pembuatan dan konsumsi tempe di Indonesia.
Tempe Warisan Budaya Takbenda Dunia dan Sejarah Panjangnya di Indonesia
Asal-usul Tempe dalam Peradaban Nusantara
Tempe diyakini berasal dari Pulau Jawa dan telah dikenal sejak abad ke-16. Catatan sejarah menyebutkan bahwa tempe sudah dikonsumsi masyarakat Jawa jauh sebelum kedatangan kolonialisme. Proses fermentasi kedelai yang digunakan menunjukkan tingkat pengetahuan pangan lokal yang tinggi.
Keunikan inilah yang membuat Tempe Warisan Budaya Takbenda Dunia memiliki nilai historis kuat. Tidak banyak makanan fermentasi di dunia yang lahir dari kearifan lokal dan berkembang secara alami di tengah masyarakat agraris.
Peran Tempe dalam Kehidupan Sosial Masyarakat

Tempe bukan hanya makanan, tetapi juga bagian dari budaya keseharian. Mulai dari menu rumah tangga, hajatan, hingga ritual adat tertentu, tempe selalu hadir sebagai simbol kesederhanaan, kebersamaan, dan keberlanjutan.
Alasan Tempe Warisan Budaya Takbenda Dunia Layak Diakui UNESCO
Pengetahuan Tradisional yang Ditransmisikan Antar Generasi
Salah satu syarat utama UNESCO adalah adanya pewarisan budaya secara turun-temurun. Dalam konteks Tempe Warisan Budaya Takbenda Dunia, keterampilan membuat tempe diwariskan dari orang tua ke anak, dari pengrajin ke komunitas.
Proses ini mencakup:
-
Pemilihan bahan baku
-
Teknik fermentasi alami
-
Pengelolaan lingkungan produksi
-
Etika usaha tradisional
Identitas Budaya Nasional Indonesia
Tempe telah menjadi ikon kuliner Indonesia di dunia internasional. Di berbagai negara, tempe dikenal sebagai makanan khas Indonesia, bukan sekadar produk kedelai biasa.
Proses Pengusulan Tempe Warisan Budaya Takbenda Dunia ke UNESCO
Tahapan Administratif dan Kajian Budaya
Pengusulan Tempe Warisan Budaya Takbenda Dunia melalui proses panjang, mulai dari:
-
Penetapan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional
-
Penyusunan dokumen akademik dan etnografi
-
Pelibatan komunitas perajin tempe
-
Pengajuan resmi ke UNESCO
Setiap tahap menekankan bahwa tempe bukan produk industri massal semata, melainkan praktik budaya hidup.
Keterlibatan Komunitas dan Akademisi
Perajin tempe, peneliti pangan, budayawan, hingga pemerintah daerah turut dilibatkan. Ini penting untuk membuktikan bahwa Tempe Warisan Budaya Takbenda Dunia benar-benar masih dipraktikkan dan relevan hingga kini.
Nilai Filosofis Tempe Warisan Budaya Takbenda Dunia
Simbol Kesederhanaan dan Ketahanan
Tempe dikenal sebagai makanan rakyat. Kandungan gizinya tinggi, harganya terjangkau, dan mudah diolah. Filosofi ini mencerminkan nilai ketahanan pangan dan keadilan sosial.
Keberlanjutan dan Ramah Lingkungan
Proses produksi tempe relatif ramah lingkungan, minim limbah, dan berbasis sumber daya lokal. Nilai ini sejalan dengan prinsip keberlanjutan yang juga menjadi perhatian UNESCO.
Dampak Global Jika Tempe Warisan Budaya Takbenda Dunia Ditetapkan UNESCO

Peningkatan Citra Budaya Indonesia
Pengakuan UNESCO akan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara dengan kekayaan budaya kuliner yang diakui dunia.
Peluang Ekonomi bagi Perajin Tempe
Status Tempe Warisan Budaya Takbenda Dunia berpotensi meningkatkan:
-
Nilai jual tempe tradisional
-
Wisata kuliner berbasis budaya
-
Perlindungan perajin kecil dari eksploitasi industri besar
Edukasi Global tentang Pangan Fermentasi
Tempe dapat menjadi media edukasi global mengenai pangan sehat, berbasis nabati, dan berkelanjutan.
Baca juga : Tantangan Budaya Indonesia 2025: 7 Fakta Besar yang Jadi Sorotan Nasional
Tantangan dalam Menjaga Tempe Warisan Budaya Takbenda Dunia
Industrialisasi dan Hilangnya Nilai Tradisi
Produksi tempe skala besar berisiko menghilangkan proses tradisional. Jika tidak dikontrol, esensi budaya tempe bisa terkikis.
Regenerasi Perajin Tempe
Minat generasi muda terhadap profesi perajin tempe masih menjadi tantangan. Padahal, keberlanjutan Tempe Warisan Budaya Takbenda Dunia bergantung pada regenerasi.
Upaya Pelestarian Tempe Warisan Budaya Takbenda Dunia
Edukasi dan Literasi Budaya
Pengenalan tempe sebagai warisan budaya perlu masuk ke:
-
Kurikulum pendidikan
-
Festival budaya
-
Kampanye digital
Perlindungan Hukum dan Ekonomi
Pengakuan UNESCO diharapkan diikuti regulasi nasional yang melindungi perajin dan metode produksi tradisional.
Tempe Warisan Budaya Takbenda Dunia sebagai Kebanggaan Nasional
Usulan Tempe Warisan Budaya Takbenda Dunia bukan hanya tentang pengakuan internasional, tetapi juga momentum refleksi nasional. Tempe mengajarkan bahwa warisan budaya tidak selalu megah, tetapi bisa hadir dalam kesederhanaan yang bermakna.
Jika ditetapkan UNESCO, tempe akan sejajar dengan warisan budaya dunia lainnya, sekaligus menjadi simbol kekuatan budaya lokal Indonesia yang mendunia.
Kesimpulan
Tempe Warisan Budaya Takbenda Dunia layak mendapat pengakuan UNESCO karena mengandung nilai sejarah, budaya, sosial, dan keberlanjutan. Dengan dukungan pemerintah, komunitas, dan masyarakat, tempe tidak hanya akan bertahan, tetapi juga menjadi duta budaya Indonesia di panggung global.










Leave a Reply